Langsung ke konten utama

Pertanian Organik Dalam Wangsit Raja Siliwangi




Uga Wangsit Siliwangi dalam kajian Pertanian Organik 


Dikutip dari Buku SRI Organik Indonesia :


 Rujukan nilai kearifan budaya nusantara

Kenyataan pesatnya pertambahan informasi baru keilmuan menyebabkan tidak mudahnya melangsungkan koreksi keilmuan secara spontan

apalagi bila hal tersebut harus dlakukan secara antar disiplin keilmuan.


Namun, upaya ini sangat perlu karena perkembangan permasalahan dan

tantangan di lapangan juga akan sangat cepat meningkat. Oleh karena itu, sambil menunggu dan menguji munculnya kemampuan tersebut,

kepekaan atas rujukan nilai dan observasi lapangan yang telah teruji perlu dijadikan pegangan.


Meletakkan diri pada upaya pembudayaan (cultural main streaming), masyarakat Indonesia masih beruntung dapat memanfaatkan kemampuannya menilai keadaan dengan kearifan yang dimilikinya

selama ini, yang nyaris tenggelam karena tekanan monopoli ekonomi dan penyalahgunaan kekuasaan maupun keilmuan yang bertubi-tubi.


Budaya masyarakat Indonesia pada dasarnya berlandaskan pada budaya pertanian sehinga penyimpangan yang terjadi pada keseharian praktek pertanian di lapangan pada akhirnya akan berakumulasi pada rapuhnya landasan budaya pada umumnya. 


Sudah sejak lama kearifan budaya

lokal bisa membedakan adanya makhluk cicing (tanaman), makhluk ulin (binatang) dan makhluk mimpin (manusia). Kemudian di antara ketiganya,

makhluk yang paling mungkin memiliki kemampuan untuk menyiapkan makanannya sendiri adalah tanaman karena selalu diam di tempat, tidak bisa berpindah-pindah.


Hal ini sejalan dengan bahasan buku ini

menggali blue print ilahiyah atau rancangan penciptaan kehidupan dan berkembangnya tanaman secara berkelanjutan.

Bersyukur penulis bisa berkesempatan mengungkapkan kebenaran ilmiah terbaru dan perkembangan teknologi paling canggih dalam

bidang pertanian ini, yang ternyata sangat sejalan dengan rujukan nilai dan kearifan budaya yang selama ini diajarkan dan dianjurkan oleh para

leluhur bangsa.


Dengan runtuhnya kerajaan Pakuan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebagai raja yang masih merasa bertanggung jawab atas masa depan rakyatnya, sebelum menghilang menyampaikan pesan terakhir

yang disebut Wangsit Siliwangi. Pesan ini tersebar luas dan terbuka bagi rakyatnya mengenai masa depan kesejahteraannya yang tentunya akan

sangat dilandasi oleh budaya berbasis pertanian mengenai masalah yang akan dihadapi dan kearifan apa yang harus dirujuk agar bisa melakukan kebangkitannya kembali. Sangat menarik untuk mencermati pesan raja ini karena menjelaskan dengan baik akan hadirnya fenomena pemanasan bumi yang akan diikuti oleh penyimpangan iklim dan berbagai penyimpangan dalam bidang pertanian sehingga mengkhawatiran

kesejahteraan rakyatnya karena kekurangan pangan dan sumber daya.


Namun, sekaligus pesan ini juga menyampaikan rujukan nilai yang harus ditegakkan agar dapat keluar dari permasalahan yang akan berlarut-larut

yaitu dengan melakukan pengaturan berbasis pengelolaan biomassa bekas tanaman yang secara cerdas dan cermat digunakan sebagai bahan

organik kompos serta pengelolaan tanaman pertanaman sebagai strategi awal ekosistem.


Mengenai pemanasan global, Wangsit Siliwangi mempertanyakan, "Apakah kalian tidak sadar bahwa langit sudah memerah atau memanas

karena asap dan debu dari pembakaran? Itulah sebenarnya yang menjadi sebab terjadinya perubahan musim, kadang hujan kadang tidak dan

segalanya mengikuti itu". (Arinyana teu arengeuh, langit enggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan.... saenyana anu jadi gara-gara sagala

jadi dangdangrat).


Mengenai pertanian, Wangsit Siliwangi memperingatkan bahwa ujung-ujungnya akan terjadi salah urus, aparat pemerintahan berkutat

dalam berbagai penyimpangan (korupsi). Yang membajak tanah bukan lagi tukang tani yang paham pertanaman sehingga hasilnya tanaman air

buahnya sebagian tidak berisi, bahkan tanaman tegalan tidak berbuah sama sekali, buah padi rendemennya sangat rendah sehingga tidak sampai

ke penanakan nasi. Salah sendiri karena pengelola kebunnya tidak jujur, dan tukang taninya pinter kebelinger. (... bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan. Da nu ngawulukuna lain jalma tukang tani nya karuhan, tarate hapa sawareh

kembang kapas hapa buahna. Buah pare loba nu teu asup kana aseupan. Da bonganna nu ngebonna tukang ngabarohong,nu tanina ngan pinter

kabalinger).Mengenai peluang, solusinya Wangsit Siliwangi menyampaikan harapan berikut: "Aya anu wani ngorehan terus, teu ngahiding kana

panglarang. Ngorehan bari ngalawan, ngalawan bari seuri. Nyaeta budak angon. Imahna dibirit leuwi, pantona batu satangtung, Kahieuman ku

handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embe, lain meong lain banteng, tapi kalakay jeung tutunggul".


Penulis akan terjemahkan pesan ini secara bebas sebagai penutup bahasan buku ini sebagai berikut. Ada yang berani dan terus meneliti, tidak

takut dengan hambatan dan larangan. Mencari terus sambil melawan, melawan sambil tersenyum. Itulah penggembala atau calon pemimpin

yang sebenarnya, yang tempat tinggalnya di tepi lubuk sehingga paham benar masalah ketersediaan air, yang pintu rumahnya dari batu setinggi

orang sehingga orang bisa melongok ke dalam rumahnya meyakini ia tidak menyembunyikan sesuatu bagi dirinya, ia transparan tidak punya

agenda terselubung. Lalu apa yang digembala atau dikelolanya. Bukan binatang piaraan seperti kerbau atau kambing, bukan pula binatang liar seperti harimau kecil atau banteng, yang digembala atau dikelolanya tidak lain hanyalah bekas tanaman daun-daun yang berjatuhan sebagai kompos

pembentuk siklus ruang, dan tanaman pokok-pokok pepohonan sebagai pembentuk ekosistem paling awal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIKASI PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN INDONESIA - DARING KARANGGONDANG KARANGANYAR PEKALONGAN

  Kementan Umumkan Panen Raya dan Swasembada Pangan 2025, PPL Pekalongan : Siap Swasembada Panggan!  Pekalongan, 7 Januari 2026  – Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan bangga mengumumkan penyelenggaraan acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan 2025, yang dilaksanakan hari  Rabu, 7 Januari 2026 Pukul  07.00 WIB – Selesai di Karawang dan  Partisipasi Daring: Melalui platform Zoom (Tautan: https://bit.ly/ZoomSwasembada dan https://bit.ly/ZoomSwasembadaBGN ) Acara ini dihadiri oleh sekitar 5.000 petani dan penyuluh pertanian dari seluruh Indonesia secara fisik di Karawang, serta diharapkan dapat menjangkau 2 juta petani lainnya secara daring. Kehadiran Presiden Republik Indonesia juga dijadwalkan untuk memberikan dukungan dan arahan strategis dalam upaya mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Salah satu lokasi penyelenggaraan kegiatan yang turut menyimak melalui daring yaitu Balai desa Karanggondang, Kecamatan Karanganyar, Kabupa...

Konsultan DeRuci Agrikultur Berikan Pelatihan di Lokasi Penanaman Jagung Yonif 407/PK

  Konsultan DeRuci Agrikultur Berikan Pelatihan di Lokasi Penanaman Jagung Yonif 407/PK Pekalongan, 2 November 2025  - Sebagai kelanjutan dari program ketahanan pangan yang diinisiasi oleh Batalyon Infanteri (Yonif) 407/Padmakusuma , konsultan pertanian organik dari DeRuci Agrikultur , Handono Warih , turut hadir di lokasi penanaman jagung untuk memberikan pelatihan kepada para prajurit. Handono Warih, yang juga merupakan  supplier  produk DeRuci Bio Fertilizer , menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mendalam mengenai teknik bertani jagung organik yang efektif dan berkelanjutan. "Kami dari DeRuci Agrikultur sangat senang bisa menjadi bagian dari program yang luar biasa ini. Kami percaya bahwa dengan penerapan teknik pertanian organik yang tepat, kita bisa menghasilkan jagung berkualitas tinggi yang kaya akan nutrisi," ujarnya. DeRuci Bio Fertilizer, yang kaya akan antioksidan, nutrisi, dan antibiotik alami dari hasil fermentasi bak...

PT. DeRuci Agrikultur Indonesia Perusahaan Produk Pertanian Organik

Nomor Induk Berusaha  0201230032853 Sertifikat Standar  02012300328530001 Gunakan produk pendukung pertanian terbaik anda dari PT. DeRuci Agrikultur Indonesia Kami menyediakan Pupuk Organik Cair untuk pelengkap nutrisi pertumbuhan awal, fase pembuahan, dan hormon sitokinin agar tanaman anda terbebas dari serangan hama penyakit bakteri, jamur dan virus.  DeRuci Bio Fertilizer yang baik untuk tahap vegetatif mampu mendorong pertumbuhan tanaman anda serta menghemat pemakaian pupuk. Sitokinin mampu merangsang pertumbuhan tanaman lebih cepat. DeRuci Profesional adalah nutrisi pelengkap pengisian buah.  Dapatkan konsultasi ke konsultan kami di kontak WhatsApp: 0853 2679 1367